Menata Niat dan Mengamalkan Ilmu Bersama Ust. Azka Faudy, Lc

Jakarta Barat, 8 September 2026 — Menuntut ilmu bukan sekadar tentang bertambahnya pengetahuan, tetapi juga tentang bagaimana ilmu tersebut membawa seseorang semakin dekat kepada Allah SWT dan tercermin dalam amal serta akhlaknya. Pesan inilah yang menjadi salah satu pokok pembahasan dalam kajian Prakata Penulis dalam Buku Bidayatul Hidayah yang diikuti oleh BEOMA dan KOMITACA.

Kegiatan kajian dilaksanakan pada Selasa, 8 September 2026, bertempat di Aula RA Terpadu An Nahl, Jl. Jeruk Manis IV, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, dengan menghadirkan Ust. Azka Faudy, Lc. sebagai narasumber.

 

Ilmu yang Bertambah, Hidayah yang Harus Mengikuti

Dalam kajian tersebut, peserta diajak menyelami nasihat Imam Al-Ghazali rahimahullah yang terdapat dalam bagian kata pengantar kitab Bidayatul Hidayah.

Salah satu pesan yang ditekankan adalah bahwa bertambahnya ilmu seharusnya diiringi dengan bertambahnya hidayah dan amal. Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa seseorang yang terus menambah ilmu, tetapi tidak mengalami peningkatan dalam amal dan kedekatannya kepada Allah, justru berada dalam keadaan yang perlu diwaspadai.

Dalam buku tersebut juga disebutkan makna yang sangat mendalam:

“Barang siapa yang bertambah ilmu, namun tidak bertambah hidayah (amal), maka ia bertambah jauh dari Allah.”

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa ukuran keberhasilan dalam mencari ilmu bukan hanya seberapa banyak ilmu yang diketahui, tetapi sejauh mana ilmu tersebut memberikan manfaat dan mengubah diri menjadi lebih baik.

Tiga Kelompok Orang yang Mencari Ilmu

Imam Al-Ghazali juga menjelaskan bahwa para ahli ilmu—baik santri, kiai, ulama, ustaz maupun kaum intelektual lainnya—dapat terbagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan tujuan dan niat mereka dalam mencari ilmu.

Pertama, kelompok yang mencari ilmu agama dengan tujuan menjadikannya sebagai bekal menuju akhirat. Mereka tidak memiliki tujuan lain selain mencari ridha Allah SWT dan kebahagiaan di akhirat. Kelompok inilah yang disebut sebagai kelompok yang paling beruntung.

Kedua, kelompok yang mencari ilmu agama sebagai sarana untuk memperoleh kesenangan duniawi, seperti mendapatkan kemuliaan, pujian manusia, kedudukan, harta, dan berbagai kemewahan. Meskipun mengetahui bahwa tujuan tersebut tidak semestinya menjadi tujuan utama dalam mencari ilmu, seseorang tetap dapat terjebak pada orientasi duniawi.

Pembahasan tersebut menjadi refleksi penting bagi setiap penuntut ilmu untuk senantiasa memeriksa kembali niat, karena ilmu yang sama dapat membawa seseorang kepada kebaikan apabila dilandasi niat yang benar, namun dapat pula menjadi jalan menuju kesia-siaan apabila disertai tujuan yang keliru.

Jangan Sampai Ilmu Tidak Diamalkan

Imam Al-Ghazali juga mengingatkan tentang bahaya ilmu yang tidak memberikan manfaat bagi pemiliknya. Dalam materi yang dikaji, beliau mengutip peringatan Rasulullah ﷺ mengenai orang berilmu yang tidak memperoleh manfaat dari ilmunya.

Bahkan disebutkan bahwa manusia yang paling pedih siksaannya pada hari kiamat adalah orang alim yang ilmunya tidak memberikan manfaat.

Pesan ini diperkuat dengan doa agar seorang Muslim senantiasa berlindung kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, amal yang tidak terangkat, serta doa yang tidak didengar.

Dengan demikian, ilmu seharusnya berjalan bersama amal dan perbaikan hati. Semakin seseorang memahami ilmu, semestinya semakin tumbuh kesadaran untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Menjadi Refleksi bagi Komite Sekolah

Kajian Bidayatul Hidayah ini menjadi kesempatan bagi Komite Sekolah BEOMA dan KOMITACA untuk melakukan refleksi bersama mengenai pentingnya menghadirkan nilai-nilai ilmu, adab, dan amal dalam lingkungan pendidikan.

Sebagai bagian dari ekosistem pendidikan, komite sekolah memiliki peran dalam membangun sinergi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat. Karena itu, pemahaman mengenai niat yang benar dalam menuntut ilmu dan pentingnya mengamalkan ilmu menjadi bekal yang relevan dalam mendukung pendidikan generasi.

Melalui kajian ini, peserta diharapkan tidak hanya mendapatkan tambahan wawasan keislaman, tetapi juga terdorong untuk terus memperbaiki niat, hati, dan amal.

Sebab, sebagaimana pesan yang terkandung dalam Bidayatul Hidayah, ilmu yang sejati bukan hanya yang menambah pengetahuan, tetapi ilmu yang menuntun seseorang menuju hidayah dan kebaikan.