Program Jaga Buaya: Jaga Hati, Jaga Diri, Jaga Budi Pekerti

MIT Taman Cahaya Global School (TACAGLOS) kembali menghadirkan sebuah program pembelajaran yang memadukan kepedulian terhadap lingkungan dengan pendidikan karakter melalui Program Jaga Buaya — Jaga Hati, Jaga Diri, Jaga Budi Pekerti.

Program ini telah dilaksanakan dan memasuki tahap refleksi pada Jumat, 18 September 2026, di MIT Taman Cahaya Global School. Dalam program yang berlangsung selama kurang lebih 10 bulan, para murid mendapatkan pengalaman nyata untuk merawat tanaman lidah buaya secara berkelanjutan. Tidak hanya murid, orang tua juga turut berperan dengan memantau proses perawatan dan perkembangan tanaman di rumah.

Melalui kegiatan sederhana seperti menyiram, merawat, mengamati pertumbuhan, dan mendokumentasikan perkembangan tanaman, anak-anak diajak memahami bahwa merawat sesuatu membutuhkan kesabaran, konsistensi, kepedulian, dan rasa tanggung jawab.

Lebih dari sekadar kegiatan bercocok tanam, Program Jaga Buaya menjadi sarana bagi anak-anak untuk belajar bahwa nilai-nilai kebaikan dapat tumbuh dari kebiasaan sederhana. Jaga Buaya menjadi pengingat untuk senantiasa jaga hati dengan menumbuhkan rasa peduli dan kasih sayang, jaga diri melalui sikap disiplin dan bertanggung jawab, serta jaga budi pekerti dengan membiasakan perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari.

Perjalanan program ini juga tidak berhenti pada proses merawat tanaman. Setelah melalui proses yang panjang, anak-anak diajak mengembangkan kreativitas dan keterampilan dengan mengolah lidah buaya menjadi berbagai produk yang bermanfaat. Dengan demikian, mereka belajar bahwa alam bukan hanya perlu dijaga, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara bijak dan bertanggung jawab.

### Belajar Merawat, Belajar Bertumbuh

Kepala Madrasah MIT Taman Cahaya Global School, Ustadzah Shabrina, menyampaikan bahwa Program Jaga Buaya memberikan pengalaman belajar yang nyata dan bermakna bagi para murid.

“Bagi saya, Program Jaga Buaya merupakan program yang sangat baik karena memberikan pengalaman nyata kepada anak-anak untuk belajar dan mempraktikkan nilai-nilai karakter dalam kehidupan sehari-hari. Selama kurang lebih 10 bulan merawat tanaman lidah buaya, anak-anak belajar membangun sikap tanggung jawab, kepedulian, kesabaran, dan cinta terhadap makhluk hidup.”

Menurut Ustadzah Shabrina, kegiatan merawat tanaman memberikan kesempatan kepada anak untuk memahami bahwa setiap proses membutuhkan ketekunan dan tanggung jawab.

“Melalui kegiatan sederhana seperti menyiram, merawat, mengamati pertumbuhan, dan mendokumentasikan perkembangan tanaman, anak-anak belajar bahwa menjaga dan merawat sesuatu membutuhkan konsistensi serta tanggung jawab.”

Ia juga menambahkan bahwa nilai pembelajaran dalam Program Jaga Buaya berkembang lebih jauh melalui proses kreativitas dan pemanfaatan hasil tanaman.

“Yang lebih menarik, perjalanan program ini tidak berhenti pada proses merawat tanaman. Di akhir program, anak-anak diajak untuk mengembangkan kreativitas dan keterampilan dengan mengolah tanaman lidah buaya menjadi berbagai produk yang bermanfaat.”

Melalui program ini, MIT Taman Cahaya Global School berharap setiap anak tidak hanya membawa pulang pengalaman tentang cara merawat tanaman, tetapi juga membawa nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Saya berharap Program Jaga Buaya dapat menjadi pengalaman bermakna bagi anak-anak bahwa merawat, mencintai, dan memanfaatkan alam dengan bijak merupakan bagian dari tanggung jawab kita sebagai khalifah di bumi.”

Jaga Buaya bukan sekadar tentang merawat lidah buaya selama 10 bulan. Di dalamnya ada proses menumbuhkan karakter, melatih tanggung jawab, membangun kepedulian, dan belajar menghargai kehidupan. Karena ketika anak belajar merawat sesuatu dengan sepenuh hati, sesungguhnya mereka juga sedang belajar merawat hati, diri, dan budi pekertinya.