Workshop Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta pada RA, Dorong Pembelajaran yang Ramah Anak dan Bermakna

Jakarta Utara, 2 Oktober 2026 — Penguatan kualitas pendidikan pada jenjang Raudhatul Athfal (RA) terus dilakukan melalui peningkatan kompetensi guru dalam menghadirkan pembelajaran yang bermakna, menyenangkan, dan berorientasi pada perkembangan anak secara holistik.

Salah satunya melalui Workshop Implementasi Pembelajaran Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) pada RA yang diselenggarakan atas undangan Kementerian Agama Kota Jakarta Utara melalui Kelompok Kerja Pengawas, Jumat, 2 Oktober 2026.

Kegiatan yang berlangsung pukul 07.30–16.00 WIB ini bertempat di Aula Muzdalifah, Kantor Kementerian Agama Kota Jakarta Utara, dan diikuti oleh sekitar 150 guru yang mewakili guru dan/atau tenaga kependidikan Raudhatul Athfal (RA) di lingkungan Kementerian Agama Kota Jakarta Utara.

Dalam kegiatan tersebut, Handayani Suminar Indrati, S.Pd. hadir sebagai narasumber untuk memberikan penguatan mengenai implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dalam proses pembelajaran di satuan RA.

Memahami KBC dan Menghadirkan Pembelajaran Berbasis Cinta

Workshop membahas secara komprehensif konsep, nilai, dan prinsip Kurikulum Berbasis Cinta, termasuk bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diterapkan secara nyata dalam kegiatan pembelajaran anak usia dini.

Para peserta juga diajak memahami integrasi nilai-nilai Panca Cinta ke dalam pembelajaran RA. Pendekatan ini diarahkan agar proses pendidikan tidak hanya berfokus pada pencapaian kemampuan akademik, tetapi juga membangun karakter, akhlak, kepedulian, dan hubungan positif antara anak dengan lingkungan di sekitarnya.

Dalam sesi praktik dan pengembangan pembelajaran, peserta mendapatkan wawasan mengenai bagaimana merancang pengalaman bermain dan belajar yang menyenangkan, bermakna, serta ramah anak.

Guru didorong untuk melihat kegiatan bermain sebagai bagian penting dari proses belajar anak, sehingga pembelajaran dapat berlangsung secara alami, aktif, kontekstual, dan sesuai dengan tahap perkembangan masing-masing anak.

Penguatan Asesmen dalam Pembelajaran KBC

Selain perencanaan pembelajaran, workshop juga memberikan perhatian pada aspek asesmen perkembangan anak. Guru diperkuat pemahamannya mengenai asesmen yang selaras dengan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta, termasuk upaya meningkatkan kemampuan dalam merancang asesmen Higher Order Thinking Skills (HOTS) yang sesuai dengan karakteristik pembelajaran pada jenjang RA.

Melalui asesmen yang tepat, guru diharapkan tidak sekadar mencatat hasil belajar, tetapi mampu memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai proses perkembangan, potensi, kebutuhan, dan pengalaman belajar setiap anak.

Membangun Budaya RA yang Religius dan Ramah Anak

Workshop ini menjadi ruang belajar bersama bagi para pendidik RA untuk memperkuat kompetensi pedagogik dan profesional sekaligus merefleksikan kembali peran guru dalam menghadirkan pendidikan yang berpusat pada anak.

Implementasi KBC diharapkan dapat mendorong terciptanya budaya satuan pendidikan RA yang religius, humanis, inklusif, ramah anak, dan berorientasi pada perkembangan anak secara holistik.

Dengan penguatan kapasitas guru secara berkelanjutan, Kurikulum Berbasis Cinta diharapkan tidak berhenti sebagai konsep, tetapi dapat diwujudkan dalam interaksi sehari-hari, kegiatan bermain, pembelajaran, asesmen, serta budaya positif di lingkungan satuan pendidikan RA.

Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menghadirkan pendidikan anak usia dini yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga menumbuhkan cinta, karakter, akhlak, dan kemanusiaan sejak usia dini.