Jakarta Barat — Cinta kepada Allah ﷻ bukan sekadar ungkapan yang terucap di lisan, tetapi merupakan rasa yang perlu terus dijaga, ditumbuhkan, dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Pesan inilah yang menjadi inti Kajian Rutin Mumtaza dengan tema “Menjaga Cinta-Nya”, yang diikuti oleh KOMITACA dan BEOMA di Masjid Taman Cahaya, Kedoya, Jakarta Barat.
Kajian kali ini menghadirkan Handayani Suminar Indrati, S.Pd sebagai pemateri. Melalui kajian yang penuh refleksi, peserta diajak untuk kembali memahami hakikat mencintai Allah ﷻ serta bagaimana cinta tersebut seharusnya hadir dalam setiap aspek kehidupan seorang Muslim.
Memahami Kebenaran Mencintai Allah ﷻ
Dalam kehidupan, manusia tentu memiliki banyak hal yang dicintai. Namun, bagi seorang mukmin, cinta kepada Allah ﷻ seharusnya menjadi cinta yang paling utama dan menjadi dasar bagi seluruh kecintaan lainnya.
Allah ﷻ berfirman:
“Katakanlah (Muhammad ﷺ ), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah ﷻ mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah ﷻ Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Ali ‘Imran: 31)
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa cinta kepada Allah ﷻ bukan hanya tentang perasaan, tetapi juga tentang ketaatan dan kesediaan mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ .
Bagaimana Menumbuhkan Cinta kepada Allah ﷻ ?
Dalam kajian, peserta diajak memahami bahwa cinta kepada Allah ﷻ perlu terus dirawat agar semakin kuat. Mengenal Allah ﷻ , merenungkan nikmat-Nya, memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, serta mendekatkan diri melalui berbagai amal kebaikan menjadi bagian dari proses untuk menumbuhkan cinta tersebut.
Cinta yang tumbuh dalam hati akan mendorong seseorang untuk lebih senang melakukan kebaikan dan lebih berhati-hati dalam menjaga diri dari sesuatu yang tidak diridhai Allah ﷻ .
Cinta yang Terlihat dalam Ibadah
Salah satu tanda cinta kepada Allah ﷻ adalah bagaimana seseorang menjalankan ibadah dengan kesadaran dan ketulusan. Shalat, membaca Al-Qur’an, berdzikir, bersedekah, berbuat baik kepada sesama, hingga menjalankan amanah merupakan bentuk nyata dari cinta seorang hamba kepada Rabb-nya.
Dengan demikian, ibadah tidak hanya dipandang sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai wujud kerinduan dan kedekatan seorang hamba kepada Allah ﷻ .
Allah ﷻ berfirman:
“Dan di antara manusia ada orang yang mempersekutukan Allah ﷻ dengan tandingan-tandingan yang mereka cintai seperti mencintai Allah ﷻ . Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah ﷻ .”
(QS. Al-Baqarah: 165)
Buah dari Mencintai Allah ﷻ
Cinta kepada Allah ﷻ akan melahirkan banyak kebaikan dalam kehidupan. Hati menjadi lebih tenang, ibadah terasa lebih bermakna, dan seseorang memiliki kekuatan untuk menghadapi berbagai ujian dengan penuh kesabaran dan tawakal.
Lebih dari itu, cinta kepada Allah ﷻ juga mengajarkan manusia untuk menempatkan segala sesuatu secara proporsional. Mencintai keluarga, pasangan, anak, pekerjaan, ilmu, dan berbagai kenikmatan dunia tetap penting, namun semuanya diarahkan agar semakin mendekatkan diri kepada Allah ﷻ .

Kajian “Menjaga Cinta-Nya” menjadi momentum bagi KOMITACA dan BEOMA untuk kembali melakukan muhasabah: sudah sejauh mana cinta kepada Allah ﷻ hadir dalam hati, ibadah, pilihan, dan perilaku kita setiap hari?
Sebab, mencintai Allah ﷻ bukan hanya tentang seberapa sering kita mengucapkannya, tetapi tentang seberapa jauh cinta itu mengubah cara kita hidup, beribadah, dan menjadi pribadi yang lebih baik.
Semoga Kajian Rutin Mumtaza menjadi ruang untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan menjaga hati agar senantiasa dekat dengan Allah ﷻ .
“Semoga cinta kepada Allah selalu menjadi cinta tertinggi yang menuntun setiap langkah kehidupan kita.”
#KajianMumtaza #MenjagaCintaNya #KOMITACA #BEOMA #TamanCahaya #KajianIslam #CintaKepadaAllah #KajianKeislaman #PendidikanIslam
